Rabu, 25 Oktober 2017

Tak perlu aku campur

“kedua sapi kita sudah sangat kurus bu” jelas seorang gadis kepada ibunya, kala itu seorang ibu dan anak mengasih makan sapinya. Ibu dan anak ini tinggal di sudut sebuah kampung, kampung yang umelanjutkan kehidupannya. Bertani dan berternak adalah pekerjaan yang paling banyak dilakukan masyarakat situ, begitu pun dengan seorang ibu dan anak gadisnya itu.
Ibu dan anak gadis itu hanya tinggal berdua dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, pekerjaan sehari-hari ibu itu hanyalah memerah susu sapi sementara anaka gadisnya yang cantik itu menjajalkan susu segarnya setiap pagi, mereka tinggal berdua karena ayahnya sudah meninggal dua tahun yang lalu, semenjak kepergian ayahnya kemerosotan pun semakin terasa, apalagi dibagian perekonomian, kenapa tidak, karena yang menjadi tulang punggung sekarang hanyalah ibunya, itupun sudah tua.
Setelah susu diperah sore hari kemudian akan dibungkus pada malam hari, sebelum dijajalkan gadis itu pada pagi hariny, dia menawarkan susu segar hasil perahannya itu kepada warga sekitar, ada juga sebagian yang memang sudah berlangganan.
One morning with a routine as usual start this girl around the village to sell the cow's milk, upon arrival in front of RW's house that is already a customer
 setibanya didepan rumah pak RW yang memang sudah menjadi pelanggannya, gadis itu memanggil istri dari pak RW tersebut, “ bu hari ini berapa bungkus” tanya gadih dengan bahasa yang sopan dan santun, “ tiga aja anak” jawab istri pak RW dengan lembut, “ oh iya bu”.
Pak RW tersebut memiliki seorang anak laki-laki yang sangat ganteng dan mempunyai ke pribadian yang  sangat bagus, semua gadis dikampung itu suka kepadanya tapi laki-laki itu tidak suka kepada cewek yang suka padanya hanya karna dia kaya, makanya sampai sekarang dia belum menemukan pendamping hidupnya.
Ronda malam adalah rutinitas para pemuda kampung setiap malamnya, dan kebetulan malam ini adalah waktunya bagi anak pak RW untung jaga malam, dia selalu berkeliling kampung untuk memastikan keamanan warga kampung tersebut, ketika berada didepan rumah ibu dan anak gadis yang menjual susu itu dengan tidak sengaja dia mendengarkan percakapan ibu dan gadis itu, “ nak bagaimana kalau susu ini kita tambah dengan air, supaya kita dapat uang lebih banyak” jelas ibu dengan tujuan meyakinkan anaknya”, yahh mungkin karena faktor ekonomi, namun dengan sangat jujur gadis itu menjawab “dengan menambahkan air maka kualitas susu kita akan menuru tetapi kita masih menjual harga yang sama bukan kah ibtu perbuatan curang bu?” jawab anak itu untuk membanhtah perkataan ibunya.
Karna mendengarkan percakapan seorang gadis dan ibu itu tadi malam, pemuda ganteng itu bercerita kepada ayahnya dengan maksut untuk menyampaikan kepada ayahnya kalau dia jatuh cinta kepada seorang gadis yang memiliki hati yang jujur. Dengan senang ayahnya langsung menyetijuinya, singkat cerita akhirnya keluarga pak RW pun bertanya kepada gadis penjual susu itu, dengan tidak menyangka gadis itupun bersedia menjadi istri dari anak pak RW tersebut.Akhirnya seorang ibu tua pemerah susu itupun merasa bahagia karena dia juga tinggal bersama anak dan menantunya dengan bahagia.

Rabu, 18 Oktober 2017

Kaca Buram

BAB 1
Melirik

“ untuk penampilan kelompok hari ini masih banyak kekurangan, jadi ibu harap untuk kelompok ya selanjutnya dapat mempersiapkan bahan lebih baik lagi, ibu tidak suka kalau menjelaskannya itu dengan cara membaca jadi tolong pahami materinya sebelum tampil” penjelasan bu Refika untuk menutup kelas hari ini. Bu Refika adalah dosen yang mengampu mata kuliah Perkembangan peserta didik, setelah metup kelas ibu itu langsung meninggalkan kelas.
when lecturer out start routines of our very busy class, because of course selamjutmya still diruangan same so we wait diruangan it also, subjects next is writing courses required taken by the student English education in the teachers college and science University education sassy yellow, subjects in ampu by Mr. syahdan m.pd. addition lecturer writing the father of it as well as a representative of the Dean of 1 in the faculty of US.
Kembali ke rutinitas kami yang rusuh dikelas, kami selalu bercanda ria dikelas mulai saling mnengganggu, nyanyi-nyanyi gak jelas, makan-makan, sampai yang selalu cerita masalah dia yang udah mau nikah pokoknya jika kelas tidak ada dosen maka semua mahasiswa akan sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tapi hari ini saya agak berbeda saya memilih duduk dan diam karena saya lagi mengerjakan tugas dari pak syahdan.
Saya memilih duduk dipojok sendirian karena menulis tugas, biasalah karna saya termasuk golongan mahasiswa yang mempunyai aliran pendidikan dengan selogan kalau bisa besok kenapa harus hari ini, hahahahah iya itu selogan yang salah tapi yahhh gimanalagi karna kami bukan mahasiswa yang rajin jadi kami menganggap selogan itu benar walaupun kami tidak menganjurkan untuk mengikuti aliran kami itu.
Oh iya sebelum lanjut ke cerita saya mau memperkenalkan diri dulu nama saya Romi tamimi dan orang-orang biasa memanggil saya romi dan ada juga yang memanggil omi aja, tapi itu tidak masalah, saya mahasiswa semester 3, saya tinggal dikamus, iya hahaha lucu kan tapi memang iya saya tinggal dikampus  bukan karna cinta kampus, tapi kerja disini lumayanlah meringankan biaya kuliah jadi tidak semua dari orangtua lagi, yahh alahamdulillah lah bisa banti sikit-sikit.
Back to the story karna sedang menulis jadi saya kurang memperhatikan kekacauan kelas hari ini hemmm sedih suh gak bisa ribut tapi mau gimana lagi saya harus menyiapkan tugus writing ini, setelah beberapa lama mengerjakan tugas saya mencoba melepas penat dengan meluruskan kaki sembari melihat keluar melalui jendela tapi dari kaca yang agak buram hahaha iya kacanya buram karna jarang dirsihkan, dari kaca buram itu itu saya melihat sosok wanita yang mukanya tidak asing bagi saya tapi saya tidak tau itu siapa.